Ternyata Inilah Perkara Yang Membuat Zakat dan Sedekah Kita Menjadi Sia-Sia

Ternyata Inilah Perkara Yang Membuat Zakat dan Sedekah Kita Menjadi Sia-Sia

Anjuran untuk berzakat dan sedekah disebutkan beberapa kali di dalam Al-Qur’an, hal ini mengindikasikan bahwasanya amalan yang satu ini termasuk amalan yang memiliki keistimewaan, sehingga Allah menyebutkannya berkali-kali di dalam Al-Quran. Zakat dan sedekah termasuk salah satu perbuatan yang mulia, betapa tidak dikatakan mulia, karena dengan berzakat dan sedekah kita telah mengeluarkan sesuatu untuk orang lain tanpa berspekulasi dengan keuntungan materi apa yang akan kita dapatkan.

Dan hal seperti ini akan berat dilaksanakan kecuali oleh mereka yang beriman kepada Allah, karena hanya balasan dan keridhoan dari Allah lah yang mereka harapankan, bukan balasan materi keuntungan semata dari manusia.

Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (Al-Baqarah (2) : 267)

Zakat, Infak dan Sedekah padahal memiliki keutaman dan ganjaran yang luar biasa, namun ternyata disadari atau tidak, kerap kali kita abai dan melupakan suatu hal dan sering membuat kita terjebak dalam amalan al-laghwu (sia-sia). Yaitu adalah saat kita menyebut-nyebut kebaikan yang kita lakukan dengan sengaja dan riya.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (Al-Baqarah (2) : 264)

zakat sedekah untuk dhuafa
Menyalurkan zakat dan sedekah untuk dhuafa

Amalan yang sia-sia itu diumpakan seperti batu licin berdebu yang diatasnya ada tanah kemudian menjadi bersih setelah ditimpa hujan lebat, seperti itulah perumpamaan amalan yang menjadi sia-sia. Oleh karena itu ketika zaman para sahabat, karena saking ingin menjaga niat mereka dalam beramal, mereka menyembunyikan amalan baik mereka, mereka bersedekah sembunyi-sembunyi.

Seperti yang dilakukan oleh Sayyidina Ali Zainal Abidin yang membagikan sedekah gandum dan tepung secara diam-diam. Dikisahkan pada suatu ketika, saat Sayyid Ali Zainal Abidin wafat, para warga akan memandikan jenazah Sayyid Ali Zainal Abidin. Tapi kemudian mereka menemukan sejumlah bekas berwarna hitam di punggungnya. Setelah diselidiki, tanda hitam itu seperti bekas orang yang sering mengangkat beban di punggungnya. Dan akhirnya mereka tahu bahwa orang yang sering membagikan gandum dan tepung untuk para penduduk tersebut ternyata Sayyid Ali Zainal Abidin.

Namun dikonteks zaman ini, agar zakat ataupun sedekah tidak diketahui oleh penerimanya dan tidak membuat sang penerima (mustahik) merasa rendah diri, kita bisa melakukannya melalui Lembaga Amil Zakat (LAZ). Selain untuk menghindari amalan yang sia-sia, zakat, infak dan sedekah melalui LAZ memiliki beberapa kelebihan.

Yang pertama yaitu menjaga niat kita, keikhlasan dalam bezakat dan bersedekah menjadi lebih terjaga, sehingga kita tidak menyebut-nyebut nama orang yang kita bantu, yang berpotensi membuatnya malu atau menyakiti hatinya. Menjaga muzaki dari kepentingan-kepentingan politis atau yang serupa.

Yang kedua, LAZ menghimpun dana dari banyak muzaki, sehingga pengelolaan dengan kebermanfaatan yang lebih besar akan mudah dilakukan. Karena biasanya LAZ telah menyiapkan program-program untuk mengentaskan kemiskinan dan pemberdayaan kaum dhuafa dan sebagainya.

Yang ketiga, pengelolaan di LAZ lebih profesional dan mengelola dengan sungguh-sungguh, karena diawasi langsung dibawah kementrian agama dan peneglolaan keuangannya diaudit secara professional.

Share:

Berita Terkait