Hari Kesehatan Jiwa Dunia 2019, “A Day for 40 Seconds of Action”

Responsive image

Setiap tahunnya, yakni tepatnya tanggal 10 Oktober 2019 Dunia memperingatinya sebagai Hari Kesehatan Jiwa atau World Mental Health Day yang digagas oleh World Health Organization (WHO). Apa itu kesehatan jiwa atau mental? Dilansir dari kemkes.go.id kesehatan jiwa atau mental yang baik adalah kondisi dimana ketika batin kita berada dalam keadaan tentram dan tenang, sehingga memungkinkan kita untuk menikmati kehidupan sehari-hari dan menghargai orang lain di sekitar kita. Mengingat bukan hanya kesehatan fisik saja yang penting, tapi juga kesehatan mental. Karena individu yang sehat secara mental akan dapat memaksimalkan segala potensi yang ada dalam dirinya sehingga dapat menghadapi berbagai macam tantangan atau ujian dalam hidupnya serta membangun hubungan sosial yang positif terhadap sesamanya. Sesungguhnya kondisi kestabilan kesehatan mental dan fisik saling mempengaruhi. Daniel Goleman dalam bukunya yang berjudul Emotional Intellegence menyampaikan, “Orang yang berpandangan cerah, tentu saja lebih mampu bertahan menghadapi keadaan sulit, termasuk kesulitan medis.” (Goleman, 1996). Kondisi mental yang tidak sehat dapat menyebabkan berbagai gangguan dan yang paling fatal adalah keinginan seseorang untuk bunuh diri. Berdasarkan data dari World Federation of Mental Health (WFMH), lebih dari 90 persen pelaku bunuh diri adalah orang dengan gangguan kesehatan mental yang tidak mendapatkan penanganan yang tepat.

Di tahun 2019 ini, WHO mengajak kita semua untuk turut berkontribusi terhadap masalah kesehatan mental atau jiwa melalui tantangan “40 Seconds of Action”. Gerakan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran kita mengenai kasus bunuh diri yang menjadi masalah kesehatan global dan meningkatkan pengetahuan kita tentang apa saja yang bisa dilakukan untuk pencegahan bunuh diri. Selain itu, juga untuk menghilangkan stigma keliru tentang pelaku bunuh diri, serta membuat orang-orang yang tengah berjuang dan ingin melakukan bunuh diri tahu bahwa mereka tidaklah sendiri.

Dilansir dari The Independent, setiap tahunnya ada 800.000 kasus kematian akibat bunuh diri di seluruh dunia, sedangkan WHO mengatakan bahwa rata-rata 1 orang tewas akibat bunuh diri di dunia setiap 40 detik sekali. Bunuh diri pun menjadi penyebab kematian nomor 2 di antara orang muda berusia 15-29 tahun. Dimana penyebab yang nomor 1 adalah kecelakaan lalu lintas. Di luar dugaan, bahwa ternyata justru negara-negara yang berpenghasilan tinggilah yang memiliki tingkat bunuh diri tertinggi antara tahun 2010 dan 2016 hal ini berdasarkan data terbaru WHO yang diterbitkan pada tanggal 9 September 2019 yaitu 11,5 per 100.000 orang. Sedangkan 79 persen kasus bunuh diri di dunia terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Di Indonesia, WHO pernah menerbitkan penelitiannya tentang perkiraan tingkat bunuh diri yang selesai dilakukan tahun 2016 dengan sedikit penyempurnaan terakhir di tahun 2018. Dari beberapa tahun sebelumnya, terlihat peningkatan angka bunuh diri di Indonesia. Dimana bila dirata-rata tingkat bunuh diri di Indonesia pada tahun 2000 adalah 4,3. Angka itu turun menjadi 4 pada 2010. Pada 2015 angka itu menjadi 3,7. Terakhir pada 2016, tingkat bunuh diri di Indonesia tetap pada angka 3,7. Dengan angka tersebut, Indonesia berada di peringkat 19 dalam hal tingkat bunuh diri tertinggi di dunia.

Dikutip dari laman resmi WHO, setiap orang bisa berperan serta berkontribusi untuk mencegah terjadinya kasus bunuh diri yang berdasarkan data terjadi setiap 40 detik sekali di seluruh belahan dunia. Kasus bunuh diri ini pun bisa terjadi pada siapa pun, tanpa mengenal latar belakang sosial maupun kelompok usia. Melalui gerakan “40 Seconds of Action’ ini, ada beberapa contoh aksi nyata yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan perhatian dan pencegahan kasus-kasus bunuh diri di sekitar kita. Dimulai dari diri sendiri dapat dilakukan dengan cara menjalin interaksi kepada teman kita yang telah didiagnosis menderita gangguan mental. Tujuannya agar mereka nyaman dan tidak merasa sendiri dalam menghadapi berbagai cobaan berat yang menimpanya. Sedangkan, secara publik dapat dilakukan dengan memasang iklan berupa himbauan-himbauan di media massa atau media sosial mengenai pentingnya menjaga kesehatan mental. Karena seperti kita ketahui di era digital seperti sekarang masyarakat bisa begitu mudah dalam mengakses berbagai informasi.

Pemerintah Indonesia sendiri telah ikut peduli terhadap kondisi kesehatan jiwa masyarakat Indonesia. Sebagaimana dilansir dari Tirto.id, pada tahun 2015 lalu yang bersamaan dengan peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia, Kementerian Kesehatan RI telah meluncurkan aplikasi Android, Sehat Jiwa yang dapat diunduh gratis oleh masyarakat melalui Playstore. Alasan utama pemerintah mengembangkan aplikasi ini adalah karena masih rendahnya tingkat literasi masyarakat terhadap pentingnya kesehatan jiwa. bukan hanya itu saja, berbagai situs dan aplikasi penyedia jasa konseling pun sudah semakin banyak menjamur di Indonesia sejak tahun 2015 lalu. Diantaranya, Psyline yaitu situs yang menawarkan layanan konsultasi psikologi gratis dengan psikolog professional yang memanfaatkan teknologi untuk mangadaptasikan konseling dengan konsultasi konvensional menjadi sebuah gaya hidup dan sesuai harapan konsumen saat ini. Ada juga aplikasi KALM, sebagaimana ditulis dalam laman resmi KALM, bahwa layanan ini akan membantu setiap orang untuk mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan melalui setiap percakapan yang bermakna.

Aksi-aksi nyata, situs-situs serta berbagai aplikasi tersebut adalah sebagai upaya yang dapat kita lakukan dalam masalah penanggulangan tingkat bunuh diri yang semakin meningkat dari tahun ke tahunnya. Hal ini tentu saja harus menjadi perhatian kita bersama. Melalui aksi nyata “40 Seconds of Action”, mari bersama kita galakkan kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar untuk mencegah kasus-kasus bunuh diri yang terjadi. Kalau bukan kita siapa lagi, kalau tidak sekarang kapan lagi. Semangat berjuang wahai Aktivis Kemanusiaan! Bersama Kita Bisa.