SEORANG NENEK DITANDU DENGAN SEBILAH BAMBU DI JEMBATAN HARAPAN YANG BELUM RAMPUNG

Responsive image

Berawal dari musibah banjir bandang dan longsor yang terjadi pada awal tahun 2020, tepatnya pada bulan Januari, yang menimpa beberapa titik wilayah di kabupaten Lebak-Banten. Musibah tersebut telah membawa dampak kerugian yang begitu besar dan berat bagi masyarakat, khususnya bagi masyarakat yang terdampak bencana secara langsung. Pasalnya musibah tersebut bukan hanya menghancurkan rumah, sawah, harta benda dan merenggut keluarga mereka, tapi juga telah menghancurkan infrastruktur umum seperti jembatan yang menghubungkan antar kampung.

Ambrolnya jembatan di sepanjang kampung yang dilewati sungai akibat banjir bandang dan longsor membuat akses mereka menjadi terhambat. Bagi masyarakat yang aktifitas hariannya mengandalkan keberadaan jembatan sebagai jalur penghubung dan distribusi ekonomi serta berbagai aktifitas lainnya, membuat keberadaan jembatan seolah sudah menjadi urat nadi bagi kehidupan mereka, hancurnya jembatan seolah telah memutus segalanya, membuat yang begitu dekat seolah menjadi terasa jauh.

Maka berangkat dari hal tersebut, dari kesulitan yang harus dihadapi oleh para penyintas korban bencana banjir bandang Lebak, kemudian LAZ Harapan Dhuafa berupaya mempelopori pembangunan jembatan perintis harapan dengan tipe jembatan gantung bagi masyarakat, sesuai namanya dan yang pertama kali dibangun yaitu di kampung Muhara, Desa Ciladaeun, Kecamatan Lebak Gedong, Kabupaten Lebak-Banten dan kemudian dilanjutkan ke beberapa titik lokasi lainnya, seperti di kecamatan Bintang Resmi dan Cipanas.

Saat jembatan rusak dan tiada akses untuk menyebrang, ada beberapa kisah yang begitu membuat kita merasa ingin meneteskan air mata saat mendengarnya. Bagaimana tidak, pasalnya para warga harus bertaruh dengan keselamatan mereka sendiri, mengapa demikian, karena mereka terpaksa harus menyebrangi derasnya arus sungai atau melewati jalan memutar yang jaraknya begitu jauh, selain jaraknya jauh ternyata jalannya pun rusak, padahal keadaannya begitu mendesak.

Seperti yang dialami oleh Masruroh (40) seorang warga asal Kp. Kondang, Desa Cipanas, Kec. Cipanas, Lebak – Banten, yang mengalami sakit keras, ia hanya ditandu kain sarung dan sebilah bambu namun harus segera dirujuk ke RSUD Rangkasbitung-Lebak. Tidak bisa dibayangkan bagaimana jadinya bila keadaannya benar-benar diambang kritis, dibawa melalui jalan memutar sangatlah jauh dan akses jalannya pun tidak memadai, bila dipaksa melewati sungai pun sangat beresiko besar atau bahkan tidak mungkin, Namun kebetulan di kampung tersebut Tim Harfa Rescue Indonesia yang bersinergi dengan Vertical Rescue Indonesia dan Rumah Amal Salman sedang melakukan pembangunan jembatan gantung, namun pada saat itu proses pembangunan masih belum sepenuhnya rampung 100%, akan tetapi jembatan sudah terbentang dan menghubungkan dua kampung yang terpisah, hanya tinggal beberapa papan penopang saja belum sepenuhnya terpasang di beberapa bagian tertentu. Tapi karena keadaan begitu mendesak, maka mau tidak mau, tidak ada pilihan lain selain harus menyebrangi jembatan yang belum sepenuhnya selesai tersebut. Dan Alhamdulilah mereka bisa melewati semuanya dengan baik.

Ujang Supriatna selaku tokoh masyarakat setempat yang ikut membawa tetangganya yang sakit tersebut mengungkapkan rasa syukur dan terima kasihnya, ia bercerita bahwa awalnya keluarga tetangganya tersebut akan membawa Masruroh menyebrangi sungai sambil ditandu, namun kemudian ia mendengar bahwa ada jembatan yang sedang dibangun untuk menghubungkan kampung Seah dan Kondang, kemudian ia mencoba memeriksa dan ternyata jembatan sudah terbentang dan hanya tinggal beberapa bagian papan saja yang memang belum terpasang. Kemudian ia meminta izin untuk bisa menggunakan jembatan yang belum rampung tersebut.

Ii Irfan selaku Komandan Lapangan Harfa Rescue Indonesia kemudian berembuk bersama Tim Vertical Rescue terkait permintaan tersebut, apakah jembatan tersebut sudah bisa dilalui, dan ternyata sudah bisa dinyatakan aman bila hanya sekedar untuk digunakan berjalan kaki, dan akhirnya Masruroh pun disebrangkan melalui jembatan yang belum sepenuhnya rampung tersebut “Bisa dilihat sendiri seberapa penting adanya jembatan bagi kami ini pak, ini lihat aja jembatannya belum beres juga tapi udah ka pake sama kita, bisa ngabantu kita, harapannya mah biar cepet-cepet beres ini jembatan, biar kalau ada keadaan-keadaan darurat seperti ada yang sakit atau apa kayak tadi itu, bisa langsung motong jalan lewat jembatan ini, gak harus muter jauh”. Tutur Kosasih penggerak warga yang berasal kampung Kondang dengan logat campuran Sundanya yang khas.