HARFA RESCUE INDONESIA MASIH KOKOH BANTU PENYINTAS LEBAK

Bersyukurlah jika hari ini masih bisa makan bersama keluarga dengan sajian aneka makanan diatas meja, dengan menu yang diciptakan semenarik mungkin. Atau bersyukur teramat sangat ketika jempol sakti masih bisa mendatangkan makanan melalui aplikasi yang memudahkan dengan aneka pilihan cita rasa dan menggugah selera. Atau masih bisa kongkow-kongkow ngopi cantik di Kafe dengan suasana yang membuat nyaman dan rileks.

Bersyukurlah dengan teramat sangat ketika dengan kondisi-kondisi nikmat diatas, kita masih bisa berbagi, masih bisa memikirkan saudara-saudara kita yang lain, masih bisa memberi walau dengan mengurangi jatah kenikmatan cecapan lidah dalam rangkaian kuliner.

Bersyukurlah jika di hati masih ada kesetiaan pada yang Maha Esa, salah satu setia pada-Nya adalah dengan bersyukur, karena kenikmatan hidup tidak abadi, sementara, dan akan dipergilirkan. Bagi kita yang telah Allah berikan keselamatan, wilayah yang tidak terkena musibah, saatnya diuji untuk bisa terus menerus peduli.

Bencana banjir yang menghantam Jakarta pada awal tahun 2020 lalu, bisa dikatakan https://media.javajazzfestival.com/ sudah selesai. Pun dengan bencana banjir Lebak memang sudah selesai, namun PR masih jauh dari selesai. Karena kondisi wilayah Lebak yang dikelilingi gunung dan 3 aliran sungai besar yang mengelilingi sebagian besar wilayahnya. Potensi longsor yang masih mengintai dan sungai besar yang sekali waktu meluap untuk menghanyutkan jembatan darurat sederhana setiap waktu.

LAZ Harapan Dhuafa masih di Lebak dan masih membersamai para penyintas banjir, walau tanggap darurat sudah dinyatakan dicabut. Warga Lebak masih memerlukan pendampingan, tidak bisa ditinggal begitu saja. Minimal satu tahun kedepan, pos tanggap bencana LAZ Harapan Dhuafa masih berdiri kokoh untuk Lebak.

Sebagian tim Harfa Rescue Indonesia (HRI) tengah berada di Kp. Cigobang Rt 001/ 005 Rw. 002 Desa Banjarsari, Kec. Lebak gedong, Kab. Lebak – Banten. Tim lapangan kami HRI melaporkan, sebagian masyarakat masih bertahan di Dodiklatpur Ciuyah, sebagian lagi membangun hunian sementara (Huntara) menggunakan rangka bambu dan terpal. Dan sejak kemarin, kami tengah berkonsentrasi membangun Huntara untuk mereka yang membutuhkan. Tak ada lagi rumah yang nyaman layaknya kita dan keluarga. Semua tatanan untuk sementara porak poranda. Bahkan hanya untuk sekadar menikmati kebersamaan sarapan pisang goreng hangat dan secangkir teh panas adalah kemewahan yang teramat sangat bagi mereka.

Bagikan berita ini :