
Ya Allah…
Sudah 4 bulan bu Tinah terkapar di tempat tidur dan menahan sakit di dadanya. Ibu Tinah mengidap kanker payudara, dan selama ini bu Tinah hanya berobat dengan tabib.
Bu Tinah yang sudah tidak tahan dengan penyakitnya, dibawa ke rumah sakit yang lokasinya sangat jauh dari rumah. Setelah dokter memeriksa, ternyata kondisi bu Tinah sangat mengkhawatirkan, sudah stadium 3.
Pak Iksan, suami dari bu Tinah hanya bekerja sebagai kuli serabutan dengan gaji yang tidak menentu. Paling tinggi hanya 800 ribu, itu juga hanya cukup untuk makan sehari-hari dan kalau pak Iksan diajak oleh orang untuk bekerja. Tidak mampu membawa istri ke rumah sakit. Biaya berobat dengan tabib sebelum dibawa ke rumah sakit juga sangat terasa berat.
Ibu Tinah memiliki 2 orang anak, yakni Adit dan Naufal. Anak yang pertama baru duduk di bangku sekolah menengah pertama, sedangkan anak bungsunya baru menginjak usia empat tahun. Kalau sekolah, pak Iksan tidak bisa memberi ongkos untuk anaknya karena tidak mampu. Beruntungnya, pihak sekolah membebaskan biaya untuk Adit. Sehingga tidak perlu khawatir untuk biaya sekolah.

“Kalau berobat sama tabib bisa nyampe 100 ribu. Jadi kadang nggak bisa makan. Buat ongkos anak sekolah aja nggak bisa saya kasih.” ujar pak Iksan sambil menahan tangis.
Kondisi Rumah juga sangat miris. Tidak ada kamar mandi, hanya dapur yang atapnya rawan roboh. Keluarga pak Isan jika ingin mandi, atau buang air, harus berjalan ke sungai terdekat.

#SahabatHarapan melihat kondisi ibu Tinah yang harus segera ditolong karena kankernya sudah di tahap stadium 3, yuk salurkan kebaikanmu dengan cara: