
Tak ada ujian yang diberikan Allah SWT kepada hamba-Nya, melebihi batas kemampuan. Itulah yang dialami oleh Ibu Yeti (42 th) yang saat ini menjadi kepala keluarga, menggantikan peran suaminya yang sedang sakit, serta tetap menjalani peran ibu untuk ketiga anaknya, salah satunya mengalami sakit keras.
Pak Bambang (49 thn) mengidap papiloma sinusitis dan sudah menjalani operasi sebanyak delapan kali. Saat ini, ia terpaksa menunda terapi sinar karena mengalah akan kondisi anak bungsunya yang membutuhkan perawatan intensif. Dulu, pak Bambang bekerja sebagai tukang las dengan penghasilan yang cukup untuk menutupi kebutuhan harian. Sedangkan Annisa (7 thn) mengidap leukemia limfoblastik akut sejak usia 5 tahun.

Memang tidak ada yang terlihat janggal dari kondisi fisiknya. Namun, tak jarang Annisa mengalami sakit yang tak tertahankan, terlebih saat bangun tidur. Semua berawal saat ia berusia 5 tahun. Tubuhnya diserang demam tinggi, dan saat diperiksa dokter, hemoglobin di tubuhnya sangat rendah. Tidak berhenti sampai di situ, Annisa tidak bisa berjalan selama 6 bulan. Dokter bilang Annisa mengidap leukemia limfoblastik akut. Jenis kanker darah yang ditandai dengan pertumbuhan sel darah putih abnormal pada sumsum tulang.


Kondisi saat ini, Annisa masih menjalani pengobatan di rumah sakit di Jakarta. Namun, ia membutuhkan biaya operasional yang tidak sedikit, dan biaya untuk membeli vitamin serta obat-obatan yang tidak ditanggung BPJS.
Ibu Yeti bilang, Annisa bisa 2 kali dalam seminggu untuk berobat ke Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta. Ongkos yang dikeluarkan bisa sampai 500 ribu rupiah, belum termasuk biaya obat dan vitamin yang harus dibeli. Harganya 300 ribu rupiah. Dikarenakan kondisi keuangan Ibu Yeti yang jauh dari kata layak, ia sampai harus berhutang ke saudara-saudaranya untuk operasional anaknya ke rs semenjak sakit. Hutangnya sekarang berjumlah 7 juta rupiah, dan belum lunas.
Selain Annisa, Ibu Yeti juga memiliki 2 anak laki-laki. Anak yang pertama sudah lulus SMK, dan yang kedua masih kelas 2 SMK. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, Ibu Yeti bekerja sebagai tukang buruh cuci dan setrika dengan upah sebesar 50 ribu rupiah. Doanya satu: minta diangkat penyakit yang diderita Annisa dan suaminya.
Sahabat, melihat kondisi ibu Yeti yang diterpa cobaan begitu berat, yuk kita salurkan kebaikan hari ini dengan cara:
![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik