
Kisah Diana Sari adalah cermin yang memantulkan betapa berharganya setiap nafas dan kenyamanan yang kita nikmati hari ini. Di usianya yang ke-21 tahun usia di mana orang lain sedang mengejar impian dan melangkah jauh Diana justru hanya bisa menatap langit-langit kusam, terbaring kaku di atas kasur keras yang telah menopang rasa sakitnya seumur hidup.

Rumahnya hanya dua petak kecil di pinggiran sawah Cilegon. Dapur kotor, dinding berdebu, dan kamar mandi terbuka beralas semen dingin menjadi saksi bisu perjuangan sunyi keluarga ini.

Setiap hari, sang ayah memacu motor tuanya, menembus terjal dan panasnya jalanan Cilegon demi mengantar gas dan galon. Penghasilan Rp80.000 per hari adalah satu-satunya napas bagi keluarga mereka angka yang harus cukup untuk makan, perawatan Diana, dan menyambung hidup besok hari. Sementara sang ibu, dengan mata yang menyimpan seribu duka, setia merawat Diana yang tak mampu menggerakkan jemarinya sekalipun.
Di saat kita sering mengeluhkan hal-hal kecil, ada sebuah keluarga yang terus bertahan dalam keterbatasan yang membentang. Rezeki yang Allah titipkan kepada kita hari ini, mungkin di dalamnya ada hak Diana yang dititipkan melalui uluran tangan kita.
Mari ringankan penderitaan Diana dan beri sedikit ruang hangat bagi keluarganya bersama LAZ Harfa dengan cara:
Sedikit dari kita, adalah seluas harapan bagi Diana. Buka hati, ulurkan tangan, dan hadirkan senyum untuk mereka hari ini.
![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik