“Mau gimana lagi, bu.. anak, istri udah meninggal semua. Tinggal saya. Saya syukuri aja yang penting lanjutin hidup.”
Pak Rusdi (75 thn) tinggal sebatang kara sepeninggal istri dan anak laki-lakinya 4 tahun lalu. Di gubuk dekat peternakan bekas inilah ia menghabiskan masa tuanya. Tidak ada pekerjaan, maupun penghasilan. Gubuk ini juga dulunya bekas kandang ternak. Beralas bambu, berdinding triplek yang dilapisi terpal, banyak lubang, kotor, dan pengap.
Sehari-hari, pak Rusdi menanam singkong di tanah milik orang lain. Singkong dari hasilnya menanam sendiri bukan untuk dijual, tapi untuk pak Rusdi makan sendiri.
Tidak ada kamar mandi, dapur, apalagi tempat tidur layak. Gubuk ini sangat tidak layak untuk ditempati. Terlebih jika turun hujan yang disertai angin kencang, gubuk ini bisa roboh sewaktu-waktu. Untuk mandi, pak Rusdi harus berjalan kaki ke sungai. Tidak terlalu jauh, namun medannya yang menanjak dan licin membuatnya harus berhati-hati. Walau langkah kakinya masih kuat dan cepat, pak Rusdi pernah hampir terjatuh.
“Kalau butuh air ya saya timba airnya. Bukan buat minum, buat cuci piring aja ini bekas makan.”
Air dari sungai tidak layak untuk dikonsumsi. Jadi, air bersih untuk minum atau memasak, pak Rusdi berharap dikasih oleh warga sekitar.
Kalau sakit, pak Rusdi tidak berobat ke puskesmas. Hanya mengandalkan obat yang dijual warung terdekat. Pernah satu kali, ia tak bisa bangkit dari alas triplek tempatnya berbaring.
#SahabatHarapan Pak Rusdi seharusnya bisa beristirahat di masa tuanya. Tapi takdir berkata lain. Ia tidak seberuntung para lansia di luar sana. Melihat kondisi pak Rusdi yang membutuhkan perhatian, yuk kita bantu rawat pak Rusdi dengan cara:
****
Apabila jumlah donasi melebihi target, maka dana akan disalurkan ke program bantuan LAZ Harfa lainnya melalui subsidi silang. Hal ini telah disetujui oleh perwakilan maupun pihak keluarga penerima manfaat.
Belum ada Fundraiser