
Di sudut sunyi desa Mandalawangi, di bawah bayang-bayang Gunung Pulosari yang megah, tersimpan sebuah kisah tentang ketabahan yang luar biasa. Disanalah Hasya tinggal, seorang anak semata wayang yang menjadi seluruh dunia bagi kedua orang tuanya. Namun, alih-alih dihiasi tawa ceria masa kecil, hari-hari Hasya justru akrab dengan bau obat-obatan dan dinginnya ruang perawatan.
Hasya lahir dengan kelainan hati yang berat. Di usianya yang baru menginjak dua tahun, usia dimana seharusnya ia sedang belajar berlari dan bermain bersama teman-temannya. Namun Hasya sudah harus melewati getirnya hidup yang tak terbayangkan. Tubuh mungilnya telah dibedah sebanyak tiga kali. Sebagian hatinya telah diangkat karena mengalami kerusakan permanen. Jarum suntik yang bagi banyak orang menakutkan, kini telah menjadi "teman" setia yang menusuk kulit halusnya hampir setiap hari.

Kedua orang tua Hasya menikah di usia muda, membawa harapan besar untuk membangun keluarga kecil yang bahagia. Namun takdir memberi mereka ujian yang teramat berat. Sang ayah hanyalah seorang buruh tangkil. Setiap hari, ia mendaki terjalnya lereng Gunung Pulosari, memeras keringat di bawah terik matahari demi mengumpulkan tangkil. Untuk setiap kilogram yang ia kumpulkan dengan susah payah, ia hanya menerima upah Rp5.000.

Betapa sesak dada sang ayah, ketika upah yang tak seberapa itu harus diadu dengan biaya pengobatan yang selangit. Beberapa jenis obat krusial dan rangkaian kemoterapi Hasya tidak ditanggung oleh BPJS. Di tengah desa terpencil yang jauh dari akses kesehatan memadai, orang tua Hasya seringkali harus memilih antara mengisi perut atau menyambung nyawa sang buah hati.
Setiap kali Hasya meringis kesakitan, setiap kali pula hati orang tuanya tersayat. Mereka terus berjuang, menolak untuk menyerah pada keadaan. Bagi mereka, Hasya adalah masa depan. Hasya adalah alasan mereka tetap bernafas meski beban di pundak terasa ingin meremukkan tulang.
Namun, cinta saja tidak cukup untuk menebus obat-obatan itu. Perjuangan orang tua Hasya akan terasa sangat berat tanpa uluran tangan dari kita semua. Hasya masih memiliki perjalanan yang sangat panjang. Ia berhak melihat dunia di luar dinding rumah sakit, ia berhak tumbuh besar dan menggapai cita-citanya.
Jangan biarkan cahaya di mata Hasya meredup karena keterbatasan biaya. Mari bantu Hasya menjemput kesembuhannya melalui :
****
Apabila jumlah donasi melebihi target, maka dana akan disalurkan ke program bantuan LAZ Harfa lainnya melalui subsidi silang. Hal ini telah disetujui oleh perwakilan maupun pihak keluarga penerima manfaat.
![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik