“Kalo mau minjem buat ongkos berobat juga malu, pernah sampe dikata-katain. Nggak enak lah itu ucapannya. Akhirnya ya nggak kontrol setahun soalnya nggak punya ongkos.”
****
Bu Darnasih (50 tahun) bekerja sebagai asisten rumah tangga dengan penghasilan satu juta rupiah bulan. Setiap hari, bu Darnasih menjalani pekerjaannya demi satu tujuan: menjaga anak perempuannya tetap hidup.
Aviliani atau biasa dipanggil Avi (22 tahun) didiagnosa mengidap lupus atau penyakit autoimun yang tak terlihat dari luar, tapi perlahan menggerogoti dari dalam. Sejak kelas 5 SD, tubuh Avi berjuang melawan dirinya sendiri. Ia tak boleh berhenti minum obat, meski lambat laun obat-obat itu memberi efek samping yang semakin berat.
Setelah lebih dari sepuluh tahun melawan autoimun, kondisi Avi semakin memprihatinkan. Ginjalnya mulai terganggu. Matanya menunjukkan tanda-tanda katarak. Wajahnya membulat karena efek obat yang harus dikonsumsi terus-menerus. Meski dari luar tampak sehat, Avi harus bertahan dari rasa sakit. Tangan dan pipinya menunjukkan ruam. Tak jarang pula ia harus menahan tangannya yang terus menggaruk satu sama lain karena rasa gatal.
“Sekalinya berobat bisa sampe dua juta. Obatnya mahal, teh. Nggak boleh putus obat juga. Kalau putus obat, harus ngulang lagi dari awal. Ini sekotak ini, obat saya semua.. saya minum” Ujar Avi sambil mengeluarkan obat-obatan dari dalam kotak.
Ibu Darnasih pernah coba pinjam uang ke tetangga, dan kerabat. Namun ia urungkan niatnya karena mendapat teguran, dan ucapan yang tidak enak dari mereka.
“Iya pernah coba ngutang gitu ke tetangga. Tapi dikata-katain. Nggak jadi lah kata saya..” ucap bu Darnasih sambil menahan tangis.
Avi juga pantang menyerah!! Ia pernah berjualan makanan ringan yang dititipkannya ke warung. Uang hasil jualan, ia gunakan untuk tambahan ongkos berobat.
“Dulu itu pernah jualan kayak makaroni gitu, teh. Terus dititipin ke warung. Hasilnya emang nggak nentu, tapi lumayan buat tambah-tambah beli obat. Soalnya harga obat kan mahal, belum vitaminnya. Sekarang nggak bisa produksi lagi. Modal nggak ada, mau kerja sama orang juga kondisinya mulai sering drop. Kena sinar matahari juga nggak bisa lama-lama,” sambung Avi.
Ayah Avi sudah berpulang karena sakit liver beberapa tahun lalu. Sejak saat itu, bu Darnasih menjadi satu-satunya tiang kehidupan bagi Avi. Ia menghidupi, merawat, dan menguatkan Avi seorang diri.
Sahabat Harapan, melihat perjuangan bu Darnasih yang tak lelah merawat putrinya, perjuangan ini tidak bisa ditanggung sendirian. Kamu bisa bantu ringankan beban ibu Darnasih agar putrinya bisa berobat ke rumah sakit di Jakarta dengan cara:
****
Apabila jumlah donasi melebihi target, maka dana akan disalurkan ke program bantuan LAZ Harfa lainnya melalui subsidi silang. Hal ini telah disetujui oleh perwakilan maupun pihak keluarga penerima manfaat.
Belum ada Fundraiser
Menanti doa-doa orang baik