Di tengah hiruk-pikuk jalanan dan panas terik siang hari, seorang lelaki tangguh terlihat mengendarai motor roda tiga yang telah dimodifikasi. Dialah Pak Yanto, seorang penjual kerupuk sekaligus tulang punggung keluarga. Usianya baru 38 tahun, tapi perjuangannya sudah seperti cerita panjang seorang pahlawan dalam kehidupan nyata.
Pak Yanto bukan hanya berdagang, ia berjuang untuk keluarganya. Sejak pagi, ia membeli kerupuk dari agen, lalu bersama sang istri, mengemas kerupuk untuk dijajakan ke warung-warung kecil, kios bakso, terminal, hingga SPBU. Dari siang hingga malam, peluhnya menjadi saksi bahwa nafkah halal itu dijemput dengan gigih, bukan mengeluh.
Namun, tidak semua perjalanan Pak Yanto mulus. Ia pernah mengalami kecelakaan tunggal, ban motor lepas tiba-tiba di tengah jalan. Motor oleng, tubuhnya hampir terhempas. Untung, saat itu jalanan sepi. “Kalau ramai, waduh, saya nggak bisa ngebayangin,” ucapnya mengenang kejadian itu dengan suara lirih.
Meski punya keterbatasan fisik, Pak Yanto tidak pernah meminta-minta. Ia tetap berdiri sebagai pejuang nafkah. Dengan penghasilan yang terbatas, ia berupaya memperbaiki motor roda tiganya agar lebih aman. Tak hanya itu, ia juga berusaha membangun kamar sederhana di tanah sebelah rumah saudaranya, agar bisa hidup lebih layak bersama istri dan anaknya.
“Saya nggak enak terus numpang sama saudara. Pengen punya ruang sendiri buat keluarga kecil saya,” tuturnya pelan.
Indonesia telah merdeka selama 80 tahun. Tapi masih banyak pejuang keluarga seperti Pak Yanto yang belum sepenuhnya merdeka dari keterbatasan. Kini, saatnya kita menjadi bagian dari harapan mereka.
Mari kita hadir sebagai kemudahan untuk Pak Yanto.
Mari wujudkan kemerdekaan sejati bagi para pejuang nafkah.
Salurkan kebaikanmu dengan cara:
Belum ada Fundraiser